Sabtu dini hari jam 03.00 pagi tanggal 28 Februari 2009, sedang nyenyak tidur tiba-tiba istri ku membangunkan aku dengan panik, Apa Ma? Ini kok air ketubanku kelihatnnya sudah pecah yah, ada campur darah lagi, what ? weleh sempat panik sih, tapi harus bisa mengontro diri, melihat ketempat tidur sprei sudah basah penuh dengan air ketuban yang merah , aku katakan ke istri untuk menenangkan psikologisnya "udah tenang ma, jangan panik, banyak dzikir aja sudah waktunya lahiran", dan wuizz aku sendiri kaget ngelihat ekspresiku di cermin tollete didepan tempat tidur, waduh lho kok aku yang tegang gini.
Gila, sama sekali belum ada persiapan untuk alat-alat bayi dan ibunya yang akan dibawa kerumah sakit," ya sudah mama ganti baju dulu ayah akan siapkan baju-bajunya ya, mama duduk aja" eh, malah dimarahin istri duduk gimana katanya....malah gak boleh entar juga di dokteran sambil nunggu pasti disuruh jalan-jalan dulu (heem pemikiran yang anaeh menurutku), ya sudah terserah mama saja lah yang penting sabar dulu ya.
Setelah selesai prepare untuk barang-barang yang dibawa, aku sempetkan ambil air wudhu dahulu lalu sholat dua rakaat dan berdoa untuk keselamatan istri dan bayiku dan semoga dimudahkan semua prosesnya, lalu aku berkata pada istriku, ma aku mau cari taksi dulu ya (karena sangat tidak mungkin mengantar istri dalam keadaan pecah ketuban dan hujan dengan naik motor) ehm, atau ma coba deh tolong kamu tanya ke mbak diah (tetangga rumah) apa pak ketut (suaminya mbak diah) ada di rumah jadi bisa minta tolong ke klinik naik mobilnya, Alhamdulillah pertolongan Allah sangat dekat ternyata pak ketut dan istrinya mau menolong mengantarkan istriku ke klinik, sementara aku mendahului naik motor ke klinik.
Sampai di klinik dekat rumah, klinik belum buka (ya iya lah khan baru jam 04.00 pagi) wuidiih gimana nih, akhirnya setelah kami ketok-ketok pintunya klinik dibuka dan istri segera masuk ruang perawatan setelah di chek , bidan jaga di klinik memberitahukan bahwa keadaan istri sudah pecah ketuban (bukan rembes) dan air ketuban sudah banyak yang terbuang tetapi belum ada proses pembukaan sama sekali, oleh karena itu bidan jaga langsung menelpon dokter kandungan istri biasa konsultasi, dan saya disarankan untuk pilih kamar dan selesaikan administrasi dulu (weleh penyakit lama-administrasi melulu yang utama, kalau gak ada uang berarti gak bisa melahirkan dong...payah), lalu suster perawat minta kain sarung (penutup) untuk dikenakan istri karena yang saat ini dipakai istri sudah basah terkena air ketuban, sedang istri saya bilang ya sudah ayah pulang dulu segera ambil sarung penutup ya, mama disini nungguin, saya jawab ya, mama dudk dulu saja, dan lagi jawaban istri khan gak boleh duduk yah, harus jalan-jalan, kata bidan perawat lho ibu kata siapa itu, justru ibu harus duduk diam jangan banyak gerak biar ketubannya gak banyak yang keluar lagi (he..he..he.nah lho rasain dimarahin bidan-tapi kasian juga sih).
Buru-buru saya pulang ke rumah mengambil kain sarung yang diminta, dan mencari-cari uang tambahan (gila uang pulsa baru kemaren disetor jadi dirumah sama sekali gak ada uang-waduh harus narik atm nih) setelah itu saya sempatkan untuk sholat subuh dulu sebelum balik ke klinik. Ditengah jalan ke klinik hujan deras datang dan istri menelpon kalau dia harus cesar (apa...sempet shock juga) ehm, ya sudah ditunggu dulu ayah masih terjebak hujan nih, pakaian pun basah kuyup, akhirnya balik lagi kerumah ganti pakaian kering dan mengambil jas hujan yang ketinggalan. Segera setelah itu saya langsung ke klinik dan menemui suster bidan dan dia menerangkan secara detil dua option yang hanya boleh diambil secepatnya (yang ujung-ujung akhirnya cesar juga) ya sudah setelah saya terangkan keadaanya pada istri akhirnya istri berani untuk mengikuti operasi cesar.
Namun masih ada satu masalah lagi, siapa yang akan menjemput mertua di st Gambir (halah ada-ada saja), akhirnya meski dengan berat hati istri meminta saya untuk menjemput kedua orang tuanya di st. Gambir. Segera setelah saya menandatangani surat persetujuan operasi cesar di klinik saya diminta untuk memberikan 50% uang muka untuk biaya perawatan, akhirnya saya segera ke atm untuk mengambil biaya perawatan persalinan, segera jam 07.00 pagi istri dibawa ke rs. Puri cinere untuk operasi cesar (dan saya ikuti dari belakang sambil naik taksi karena segera saya diminta untuk menjemput orang tua istri), setelah samapai di rs, dan saya setuju menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi saya segera berangkat ke Gambir.
Di taksi sendiri dan istri juga sendiri di kamar operasi, hem...suda tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain aku pasrahkan dan titipkan keselamatan istri dan anak di dalam kekuasaan Engkau Allah Maha Besar karena hanya Engkaulah Keselamatan Allah Ya Salama, hanya lantunan dzikir Allahumma Anta Salam, wa bi hamdika Anta Salam yang tertuang dalam hati ini.
Jam 07.45 pagi, saya sampai di st Gambir (sialan kemana harus menjemput nih, kenapa tadi gak tanya dulu ke istri-bodohnya aku) ini kalau tidak ketemu butuh berapa lama waktu lagi untuk mencari dan menunggu di Gambir sedang istri dan calon anak ku ada di ruang operasi, HP mertua juga esia no surabaya yang gak sempat di GOGO sehingga tidak bisa dihubungi. Ah, ya sudah apa kata Allah saja, saya pasrahkan padamu ya Allah, setelah beli peron masuk dan tanya pada petugas Gumarang sudah masuk belum, katanya belum...ya sudah saya putuskan naik saja ke lanatai dua...eh begitu nyampai lantai dua saya langsung ketemu dengan mertua saya sedang duduk di depan tangga menuju ruang lantai dua, subhanalloh mudah sekali.
Langsung saya ajak mertua naik ke taksi yang saya tumpangi dari awal mulai ambil uang di atm hingga ke rs dan ke gambir (hem Alhamdulillah Rahmad Allah, kok ya ketemu sopir taksi yang mau menunggu dan menstop argo taksinya saat menunggu dan sharing cerita saat awal kelahiran putra pertamanya juga...he..he..he jadi gak seberapa tegang), sesampainya di atas taksi saya ceritakan kepada kedua orang tua istriku kalau saat ini istri sedang ada di ruang operasi cesar, lho kok gak ditungguin, khan saya diminta istri untuk menjemput ibu dan bapak di Gambir, sekarang kita langsung aja dulu meluncur ke rs Puri Cinere.
Jam 09. 45 saya dan mertua sampai di RS Puri Cinere, saya langsung bertemu dengan Pak Ketut dan Istrinya yang berjaga disana sementara saya menjemput mertua, belum ada kabar dari ruang operasi tapi tadi mbak Indah sudah masuk ruang Operasi (kata mbak Diah), saya tanya ke ruang UGD saat awal istri saya masuk tadi pagi petugas disana Cuma bilang kalau istri sudah masuk ruang OKA (operasi kandungan) dan sudah diatangani Cuma untuk tahu sudah selesai atau belum diatidak tahu karena beda divisi yang menanganni, sabar saja Pak, silahkan tungu didepan ruang OKA nanti kalau ada apa-apa pasti bapak akan dipanggil, jam 10.50 belum ada kabar juga akhirnya saya putuskan mengantar Bapak mertua untuk pulag dulu dirumah, lalu saya langsung balik kembali ke rumah sakit naik motor, hem hari yang panas banget padahal tadi pagi hujan deres seperti terguyur dari langit.
Jam 12.30 siang, sudah masuk waktu Dhuhur dan belum ada kabar...bosen juga jenuh menunggu tanpa ada kabar, sementara ibu mertua sudah sangat gelisah (saya suruh makan siang pun tak mau). Ya sudalah mending sholat dhuhur saja dahulu, setealh selesai sholat jam 12.50 ibu mertua menyuruh saya (dengan paniknya) untuk tanya di lantai 4 (empat) satpam UGD yang ditanyai ibu mertua tadi yang memberi saran ya sudah saya naik ke lantai 4, saya merasa bahwa anak saya sudah lama lahirnya Cuma tidak tahu saja letaknya sekarang dimana, setelah tanya dengan satpam wanita yang menjaga lantai 4 diberi informasi bahwa di lantai 4 tidak ada pasien bernama ibu Indah, yang ada ibu Imelda , saya tanyakan lagi bahwa dia pasien rujukan ke puri baru kemudian jelas ada keterangan bahwa ada satu bayi dari pasien rujukan yang ada di lantai 4, wah ya itu anak saya. Satpam itu sempat bertanya bapak siapanya, saya jawab alau saya ini adalah ayah dari bayi tersebut baru kemudian jam 01.00 siang saya dapat bertemu dengan dia (anak ku), hem manis tertidur pulas. Namanya Muhammad Raihan Athaillah.
No comments:
Post a Comment