Akikah untuk anak ku:
Muhammad Raihan Atthaillah
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Seluruh Alam
Hanya Dia lah Yang Agung dan Yang Pantas untuk dipuji
Di dalam Al-Qur'an, sebuah siklus menjadi baik dijelaskan dengan indah oleh Allah dalam pendekatan usia. Pada mulanya manusia hanyalah seorang bayi. Lalu tumbuh dewasa, lalu bila Allah memberi umur panjang, ia bisa melewati umur empat puluh tahun. Tetapi semua tahapan usia itu harus menjadi sebuah siklus keshalihan.
Kehidupan ini adalah anugerah terindah yang Allah Azza Wa Jalla berikan pada mahkluk-Nyadi muka bumi ini, Al Quran menjelaskan sebuah siklus kehidupan ini,
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.(al Hajj-5)
Kehidupan manusia dimulai sejak kita berupa Janin di dalam kandungan Ibu kita, lalu manusia terlahir kedunia mejadi bayi. Dalam sebuah keluarga kelahiran seorang putra-putri merupakan suatu kebahagian luar biasa yang akan melengkapi kehidupan manusia di muka bumi ini. Seperti ayat di atas bahwa kelahiran anak merupakan bukti kekuasaan Allah dan bukti kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya di bumi ini.
Bahkan nabi Zakaria pun berdoa untuk mendapatkan karunia seorang anak dari Allah Azza Wa Jalla, Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
Anak keturunan kita adalah harta terindah yang kita peroleh di dunia ini, karena sejuta harapan yang lebih baik kita gantungkan pada keturunan kita, tidak ada manusia yang tidak akan bangga pada anak keturunannya apalagi bila anak keturunannya dapat meraih prestasi-prestasi mengagumkan di dunia ini.
Dalam islam anak kita terutama anak yang sholeh dan sholihah adalah aset utama kita sebagai salah satu peringan beban manusia kelak saat manusia memasuki alam kubur, karena hanya tiga macam amal jari'yah yang tetap tidak akan terputus pahalanya bahkan saat manusia itu telah berada dalam alam kubur, dan salah satunya adalah doa dari anak kita yang sholeh dan sholihah.
Namun sesungguhnya juga Allah memberikan anak adalah sebagai salah satu bentuk ujian bagi kita hamba-hamba-Nya, karena setiap anugerah amanat adalah ada hisab yang telah menanti disana, apakah kita mampu menunaikan amanat tersebut ataukah kita malah terjerumus ke lubang kehancuran akibat lalainya manusia dari amanat yang diembannya, Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
Marilah sejenak kita lihat bagaimanakah manusia itu diciptakan Allah Azza Wa Jalla ;
12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
(Q.S. Al Muminun)
7. Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
8. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.
9. Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
(Q.S.As Sajdah)
Pendengaran, Penglihatan, dan Hati adalah juga anugerah kesempurnaan yang Allah berikan untuk kita, untuk kita syukuri keberadaannya namun sungguh sebagian besar waktu yang manusia miliki, kita dengan mudah melupakan keberadaan anggota tubuh tersebut.
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina
kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur
yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur."
Karena itulah sebagai kewajiban atas kita sebagai orangtua dalam bersyukur adalah mengikuti perintah dala Al Quran dan Sunnah Rosul saw, diantaranya adalah perintah dari Rosul saw agar kita mengadakan Aqiqah atas kelahiran anak-anak kita.
Hukum pelaksanaan akikah adalah sunnah Mua'kad, artinya perbuatan sunnah yang sangat dianjurkan / dikuatkan untuk dilaksanakan.
"Setiap anak digadaikan pada akikah yang disembelih pada hari ketujuh, lalu diberi nama dan dicukur rambutnya." (Abu Daud dan Nasa'i. Hadis ini disahihkan bukan oleh satu ulama).
Semua yang tergadai adalah wajib kita tebus, seperti halnya kita mengadaikan barang maka kita pasti akan menebusnya apabila kita telah mampu. Maksud tergadai disini adalah kewajiban bagi orangtua untuk melaksanakan rasa syukur kepada Allah Azza wajala atas kelahiran putra-putri mereka yang telah di idam-idamkan selama ini. Menurut pemikiran saya akikah ini jatuh kewajibannya hanya pada orangtua pada saat kelahiran anak mereka apabila mereka mampu, dan apabila anak-anak mereka telah dewasa baligh dan mandiri kewajiban akikah telah gugur, dan tidak wajib untuk anak mereka melakukan akikah lagi terhadap diri mereka sendiri, namun apabila mereka melakukannya maka sembelihan itu adalah sodaqoh kebaikan buat diri mereka sendiri, wallahualam.
Al-Munawi dalam kitab "Syarah Faidlul Qodir" meyebutkan perkataan dari Ibnu Qayim, "Tujuan dari Aqiqah adalah untuk menyelamatkan anak yang baru lahir dari setan dan mencegahnya dari godaan setan demi kemaslahatan akhiratnya, Hilangkan penyakitnya maksudnya dengan mencukur rambutnya dan kotoran yang ada dikepalanya, baik ia suci dan ataupun najis. Agar rambutnya juga bisa tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Ini juga bermanfaat bagi kepala, karena akan membuka pori-pori di kepala dan akan mengeluarkan uap dengan mudah, juga bisa menguatkan inderanya."
Diantara manfaat lainnya dari aqiqah menurut Ibnul Qayyim rahimmullah dalam kitabnya "Tuhfatul Maudud", adalah :
- Merupakan bentuk Ibadah kepada Allah SWT
- Merupakan pelatihan menuju sifat mulia menghilangkan kekikiran
- Mengadakan jamuan makan kepada orang lain adalah sebagai salah satu bentuk Ibadah kepada Allah SWT
- Melepaskan gadaian si anak, agar bisa memberikan atau mendapatkan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak
- Menanamkan Sunnah-Sunnah yang disyariatkan dan memberantas Khurafat Kejahiliyahan
- Memperkenalkan nasab anak
Setelah itu kewajiban orangtua adalah memberi nama kepada anaknya dengan sebaik-baik nama, karena nama yang diberikan oleh orang tua adalah sebagian dari doa dan harapan orang tua kepada Allah Azza wajalla atas kehidupan anak mereka kelak.
Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Termasuk keindahan adalah memberikan nama kepada anak kita dengan nama yang baik dan indah, serta menjauhkan mereka dari nama yang jelek. Islam adalah agama yang mudah. Allah berfirman,
"Allah menghendaki kemudahan bagimu" (Q.S. 2 ayat 185)
Oleh karena itu Allah menginginkan kemudahan sampai pada nama. Dan juga tidak menyukai kesulitan dan kekerasan hingga pada nama. Hal ini terlihat dari larangan Rosululah saw memberi nama dengan harb (perang), Rosulullah bersabda: "Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Yang aling jujur adalah harits dan Hamman. Dan yang paling jelek adalah Harb dan Murrah (pahit)." HR. Ibnu Hajar
Setelah memberikan nama kewajiban orang tua adalah mengasuh, memberi nafakah yang layak dan halal sesuai dengan kemampuan orang tuanya, dan yang terpenting adalah memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak kita.
Dan dalam masalah nafkah, berikanlah hanya nafkah kepada keluarga kita hanya dari harta yang baik dan halal untuk kebaikan keluarga kita, dan semoga Allah Ar-Rahman memberikan kemampuan itu kepada kita semua:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Pendidikan terbaik yang utama adalah mengenalkan anak akan Tauhid, mengenalkan anak akan inti kalimat La Illah ha Illallahu Muhammadan Rosululloh, dan mengenalkan anak pada adab-adab kebaikan melalui contoh suri teladan kita sendiri (sebagai orang tuanya), semoga Allah memberikan kepada kita adab-adab yang baik sehingga tingkah laku kita adalah contoh panutan yang baik bagi anak keturunan kita semua. Kemudian mengenalkan dan membekali anak dengan ketrampilan-ketrampilan dan pendidikan formal dan non formal untuk kemaslahatan kehidupan anak kita kelak.
Allah memberikan contoh pendidikan ini dalam friman-Nya :
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
Kita semua adalah anak dari orangtua kita semua, dan kita juga saat ini menjadi orangtua dari anak – anak kita, maka sudah sepatutnya setelah kita bersyukur pada Allah adalah kita bersyukur kepada orang tua kita yang telah susah payah membesarkan kita hingga kita bisa mandiri seperti sekarang ini, dengan contoh kasih sayang orang tua kita, seperti itulah kita belajar untuk mengasuh anak-anak kita.
Namun kesemua ini adalah awal dari rangkaian syukur kita kepada Allah Azza wajalla atas segala kenikmatan dan ujian yang telah Allah berikan kepada kita. Hidup adalah serangkaian ujian melalui Harta benda, Pangkat Jabatan, Anak dan Istri, dan sebagainya.
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Karena itu marilah saudara-saudara ku seiman, marilah kita kembali pada Al Quran dan Sunnah Rosul saw pada setiap gerak hidup kita, marilah kita bersama saling mengajarkan dan mengingatkan pada saudara nya yang lain apabila saudara nya seiman tengah lengah dari jalan Allah. Tiada kesempurnaan adalah hanya milik-Nya semata, tiada kebaikan adalah tercurah karena kasih sayan-Nya pula, sedang semua khilaf, salah dan dosa adalah dari nafsu manusia.
No comments:
Post a Comment